Thursday, 13 December 2018
redaksi@karodaily.com
Ekonomi Pasar

Jelang Ramadhan, Harga Wortel Karo meningkat Rp 2.500 – Rp 3.500

Views

KARODAILY.com, BERASTAGI – Jelang bulan suci Ramadhan, komoditas hortikultura khususnya wartel mengalami peningkatan harga di kalangan petani di Kabupaten Karo. Peningkatan harga bervariasi sesuai dengan kondisi kualitas tanaman wartel.

Hal ini diungkap petani wartel di Kota Berastagi Fernando Sembiring Pandia ketika ditemui, Senin (15/5). Dikatakan, harga wortel yang sebelumnya Rp 1.500 – Rp 2000 perkilogram, kini mengalami kenaikan hingga Rp 3.500 untuk kualitas yang bagus.

“Harga ditingkat petani yang melelang tanaman wartel bervariasi sesuai kualitas, ada juga yang Rp 2.500,  Rp 3.000. Bahkan untuk kualitas kirim keluar daerah, yang dijual ke gudang harganya bisa mencapai Rp 9.000,”urai Pandia.

Menurutnya, ada anggapan kenaikan harga ini karena menjelang bulan puasa dan menyambut Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah serta minimnya stok wortel di perladangan petani di Kabupaten Karo saat ini. Selain itu, cuaca ekstrim dan hujan lebat pada bulan Maret – April 2018 lalu, sangat mempengaruhi jumlah populasi pertumbuhan tanam wortel yang sudah ditabur pada lahan tanam.

Petani lainnya, Metehsa Purba yang memiliki pertanaman wortel di Desa Kandibata, Kecamatan Kabanjahe ketika ditemui sedang memanen wortel miliknya di lahan pertanian seluas dua hektar mengatakan, dengan harga jual Rp 2.500 per kilogram, sebenarnya petani sudah mendapat untung walaupun belum maksimal.

Dikatakan, untuk 1 hektar tanaman wortel membutuhkan modal dengan rata – rata 17 hingga 18 juta rupiah hingga panen. Biaya tersebut meliputi bibit, tenaga kerja dan pupuk kompos serta obat semprot.

“Mengingat harga wortel dari bulan Desember 2017 hingga April 2018 hanya sekitar Rp .1000 hingga Rp 1.500 per kilogram, maka petani mulai mengurangi luas tanam wortel akibat merugi. Namun dengan harga wortel saat ini mencapai Rp 2.500 per kilogram, maka petani wortel berani menandatangi kontrak harga dengan perusahaan yang berminat membeli wortel dari Tanah Karo, sebab selain besaran buahnya sudah standart, rasanya juga renyah dan diminati pasar,” Ujar Metehsa Purba.

Lebih lanjut disampaikan, untuk panen wartel kali ini dirinya membutuhkan pekerja upahan sebanyak 40 orang, karena hasil panen dari dua hektar diprediksinya mencapai 50 ton. Sedangkan harga jual yang sudah disepakati Rp 2.500 per kilogram.

Pantauan  wartawan di perladangan Palamunte Desa Kandibata, Kecamatan Kabanjahe tampak petani mulai memanen tanaman wortelnya untuk dijual kepada pembeli yang datang langsung membawa truk pick up ke lahan warga.

Selain petani wortel memanen sendiri bersama pekerja upahan, adapula pencabutan wortel dengan sistem lelang. Pada sistem ini, petani wortel hanya menerima uang hasil dari transaksi lelang dari pembeli dan bukan ikut melakukan pencabutan serta  pembersihan wortel untuk dipasarkan. (kd/nanang)

Leave a Reply